Takut mati. Dulu di sebuah tulisan, saya mengatakan bahwa mati dan hidup hanya dipisahkan oleh garis tipis peristiwa. Bisa saja sedang rakus melahap daging-daging bakar di sebuah restoran Jepang dan hampir tersedak salah satu bongkahan daging sementara teman makan kita juga sibuk membakar dan melahap sampai-sampai lupa memperhatikan kita. Namun takdir bisa menjadi palu yang menentukan kapan harus dilketuk dan tidak. Mati atau tidak. Kalau masih ada umur, bongkahan daging itu akan terlontar keluar dari pucuk esophagus dan meninggalkan kita tersengal-sengal karena terkejut namun pada saat bersamaan lega tidak jadi mati tercekik bongkahan daging. Menjadi jelas, bukan matinya saja yang menakutkan, tetapi proses kematian itu yang menghantui. Apalagi proses kematian dengan sakit yang begitu payah dan tidak tahan melihat tatapan pilu orang-orang yang kita kenali dan kita juga ketahui dengan pasti bahwa berikutnya bisa jadi giliran dia.
Takut sejarah hidup terbongkar. Ada yang namanya gangguan somatisasi. Gangguan jiwa yang bermanifestasi dalam bentuk keluhan-keluhan fisik. Menurut sebuah kitab kriteria diagnosis, keluhannya bisa berupa: 1) empat gangguan nyeri pada empat lokasi yang berbeda (bisa kepala, perut, punggung, pada saat kopulasi atau buang air kecil, dan sebagainya), 2) dua gangguan pencernaan, seperti mual, kembung, dan lain-lain, 3) satu gejala seksual, misalnya gangguan ejakulasi, haid tidak teratur, dan lain-lain, dan 4) satu gejala pseudoneurologis seperti lumpuh atau kelemahan setempat, gangguan menelan atau seperti ada benjolah dalam kerongkongan, atau yang lainnya. Saya selalu menyebutnya gangguan 4211. Yang belum terjawab adalah hubungan sejarah hidup dengan gangguan 4211.
Bisa saja seseorang merasa menjadi pendosa dengan perjalanan hidup yang sudah ditempuhnya. Tetapi bisa juga keluhan-keluhan fisik yang dideritanya bukan disebabkan langsung oleh dosa-dosa fisiknya. Justru keluhan-keluhan fisik yang muncul adalah manifestasi hukuman psikologis atas dosa-dosa fisik yang telah diperbuatnya.
Takut gegabah telah menyia-nyiakan hidup. Bila, terbukti bahwa berbagai pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter atas tubuhnya, menghasilkan rangkaian diagnosis yang akan menjadi prediksi atas berapa lama tubuhnya akan bertahan hidup, maka kira-kira akan berakibat apa pada saat mendengarnya. Dengan jumlah manusia yang semakin banyak dan mungkin agak terlambat untuk program keluarga berencana, tentunya tidak banyak rencana yang bisa dibuat ke depan. Bukanlah suatu pengarahan pesimis, justru realis. Bergerak saja sudah sulit dengan begitu banyak manusia lain yang juga bergerak. Semakin bergerak bersama-sama maka akan semakin sulit untuk menikmati dalam keleluasaan. Yang ada sikut-menyikut, curiga-mencurigai dan saling menjatuhkan. Sudah menjadi prediksi bahwa manusia akan menggerogoti sesama manusia. Lalu, sentimentalisme bisa melanda. Andaikan lebih menghargai hidup selama ini. Masa depan sudah pasti terasa penuh sesak oleh problem massal. Artinya masa depan juga tidak terlalu indah bila dijalankan walau fisik sehat. Tapi sedihnya juga, jika deteksi dokter tidak terlalu menggembirakan, maka akan muncul penyesalan telah gegabah menyia-nyiakan hidup dan bukannya merayakan hidup yang sangat pendek dan hanya satu kali. Sakit atau tidak, penghayatan waktu adalah keharusan dalam hidup.
Tidak ada maksud tulisan ini untuk menyebarkan kegelapan dalam pikiran siapa pun yang membacanya. Saya pun tidak berharap pada saat saya menemani ibu saya periksa papsmear ke seorang dokter spesialis kebidanan & kandungan, ia akan menyemangati ibu saya untuk tetap memelihara hidup dengan hidup teratur dan mengatur pola makan karena kelak dalam 10-20 tahun ke depan sains akan memungkinkan tubuh manusia untuk regenerasi. Selama ini saya kira hanya dr.Mohinder Suresh dan ayahnya yang begitu yakin dengan teori dan bukti empirik dari regenerasi sel-sel tubuh manusia.
***
*) dimuat di majalah Djakarta! No.106, 21 April 2008