Sampai di sini, saya teringat pada album kelompok Angels & Airwaves, We Don’t Need To Whisper. Ada sebuah keintiman yang terjadi antara saya dengan personil-personil Angels & Airwaves. Keintiman itu tidak pernah melalui kontak fisik yang banal. Justru pertautan kami terjadi melalui irama dari lagu-lagu yang mereka ciptakan dari hasil perjalanan hidup, imajinasi, fantasi, dan pertentangan.
Saya merasakan kesamaan perihnya sebuah perjalanan, sebuah proses, sebuah akhir. Ada kebuntuan, ada keputusasaan, ada kebodohan, dan tibalah pada sebuah kondisi yang sering saya lawan, yaitu kepasrahan diri bahwa saya butuh dirangsang secara eksternal. Dorongan internal saya sudah tidak kuasa lagi membendung impuls-impuls nakal untuk tetap bertahan dalam lorong produktivitas. Begitu banyak distraksi yang muncul, namun seolah-olah Angels & Airwaves mengatakan pada saya —seperti yang dilontarkan dalam lagu “Distraction”— “I’ll be your distraction”.
Album ini tidak pernah bermaksud untuk berbicara tentang cinta. Walau judul albumnya memegang dua arti, yang tersurat dan tersirat. Yang tersurat, ini jamannya kebebasan jadi siapa pun dapat bebas angkat bicara tanpa harus berbisik-bisik lagi. Ini makna yang dapat diaplikasikan di Indonesia tentunya, mengingat Indonesia sedang berenang-renang dalam banjir kebebasan.
Yang tersirat tentunya lebih menggetarkan, cinta ini begitu agung sehingga tidak akan ada orang lain yang dapat memahami makna cinta ini pada saat masih ada di sini dan terasa dalam setiap gerak-gerik, hentakan isi nadi, dan sergapan nafas; atau betapa sakitnya pada saat harus kehilangan cinta, bahkan lebih parah lagi, pada saat tidak mampu lagi merasakan cinta karena divonis bahwa kesempatan cinta hanya datang satu kali untuk selamanya. Ekstremitas yang memang tidak nyata ini seolah dapat dirasakan melalui lagu “It Hurts” dan lengkingan kalimat “Your best friend is not your girlfriend”.
Pada lagu “Valkyrie Missile” saya dibawa terbang dalam sebuah pesawat tempur yang menukik dan bersiap-siap mengunci pesawat musuh dalam terjangan rudal-rudal bengal. Dengan intro yang panjang, memberikan kesempatan jeda untuk memuntahkan kalimat-kalimat pada saat sebuah proses kreatif biasanya sulit untuk dimulai. Namun dalam rasa mual akibat salto-salto, sebuah skenario film layar lebar berjudul MERAH terlahir berkat lagu-lagu dari album berjudul We Don’t Neet To Whisper yang mendampingi saya dalam ruang gelap, udara dingin buatan, dan waktu yang sempit karena tenggat waktu yang relatif tidak masuk akal. Film Merah itu sendiri begitu sarat dengan emosi menukik karena keingintahuan semasa hidup dan ketidaktahuan setelah mati, yang sama sekali tidak perlu dianalogikan dengan lagu yang penuh teriakan-teriakan.
“The War” juga pernah menjadi hantu yang menjejali segenap elemen kerja saya pada saat menuliskan sebuah skenario film layar lebar ber-genre suspense berjudul HITAM yang batal difilmkan dan tidak pernah difilmkan. HITAM sempat berganti judul menjadi Langit/Havana. Karena satu tokoh ini adalah dua sisi mata koin yang saling menopang keutuhan self-nya. Tidak bisa terbayangkan saat tubuh harus merespon pergerakan jiwa-jiwa yang kontradiktif, sampai saya mendengarkan lagu ini. “The War” menyempurnakan ungkapan dua jiwa yang terperangkap dalam satu tubuh secara komplementer.
Entah mengapa, saya tidak terlalu mengusik lirik-lirik lagu dalam album ini. Saya hanya mengejar irama-iramanya yang penuh nuansa petualangan, kontemplasi, dan kelelahan, sehingga mampu membebaskan diri saya sendiri dari belenggu-belenggu rutinitas, pikiran, dan timbullah proses derealisasi di mana semua yang ada di sekitar saya berputar begitu cepat dan menghilang, sehingga tibalah saya dalam sebuah ruang khayal yang saya butuhkan. Ruang khayal yang berhasil hadir itu adalah magnum opus yang melebihi arti dari karya yang berhasil terukir.
Dan sebagai penggemar fanatik Blink 182, sulit bagi saya untuk mengabaikan bisikan-bisikan Angels & Airwaves.
*) dimuat di Jakartabeat.Net