Satu hal yang saya ingin sosialisasikan -baik pada acara UNS blogfest maupun Pesta Blogger di Jakarta tahun lalu- adalah bahwa melalui blogging, baik microblogging seperti twitter, merupakan sebuah sarana untuk lebih sensitif terhadap kondisi kejiwaan bangsa Indonesia. Bukan berarti saya men-stigma sakit jiwa, saya hanya mengajak para peserta blogfest untuk membuka mata bahwa kasus kejiwaan sangat banyak dan yang paling hardcore adalah bunuh diri dengan melompat dari gedung-gedung tinggi. Saya pribadi secara tidak sengaja bertemu dengan kasus depresi, skizofrenia paranoid, tendensi ingin bunuh diri, dan lain-lain sebagainya, baik melalui facebook atau pun twitter.
Bukan berarti kita men-stigma mereka yang "terjaring" tetapi justru karena program dan anggaran untuk program Promotif dan Preventif Kesehatan Jiwa dari Direktorat Kesehatan Jiwa belum jelas wujudnya, maka tidak ada salahnya untuk masyarakat (terutama bloggers) ikut berperan aktif untuk melakukan program preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan) kesehatan jiwa.
Misalnya pada pasien depresi berat dengan ide bunuh diri, maka tidak jarang ia akan menunjukkan warning sign atau petunjuk awal bahwa ia ingin bunuh diri. Trias depresi itu sendiri dilihat dari perasaan (menurun, depresif), pikiran (pesimis, merasa bersalah), dan perilaku (kehilangan minat untuk bersenang-senang, energi menurun). Ketiga hal tersebut bisa terekspresikan melalui status dalam facebook atau twitter.
Tugas saya sebagai narasumber selesai, dengan menjadikan pengalaman blogging saya yang saya juduli "repressed blogger" sebagai contoh dari evolusi motivasi seseorang menjadi blogger. Namun seperti apa yang dikatakan Smashing Pumpkins: ...the end is the beginning is the end... Selamat nge-blog!!! UNS Blogfest...Lanjutkan!








