Nova Riyanti Yusuf

OFFICIAL SITE

  • Salam dan Dukungan dari Aceh (RUU Keswa)

    Written by  on Wednesday, 23 May 2012 00:00 - Read 231 times

    From: Fairuziana Humam;
    Date: 23 May 2012 1:51:41 AM GMT+07:00
    To: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
    Subject: Salam dan Dukungan dari Aceh (RUU Keswa)

    Salam.

    Salam Kenal Mbak, saya Fairuziana Humam atau biasa di panggil Fairuz.
    Usia saya 23 tahun dan tahun lalu baru menamatkan pendidikan S1 di Program Studi Psikologi Universitas Syiah Kuala.
    Program studi ini baru dibuka tahun 2007 di bawah asuhan Psikologi UGM, dan saya merupakan salah satu lulusan perdananya.


    Saya sudah lama mengenal Mbak lewat nama, namun baru tahun lalu saya mengetahui Mbak sangat giat memperjuangkan RUU Kesehatan Jiwa, tepatnya ketika RUU ini mulai disebarkan melalui petisi online.

    Saya sendiri merupakan mahasiswi psikologi yang menaruh minat dan perhatian cukup besar pada kata "public mental health". Ketertarikan ini berawal dari semangat dan inspirasi yang diberikan oleh Pak Rahmat Hidayat, dosen saya di kelas Psikologi Kontemporer. Saya kira Mbak mengenal Pak Rahmat Hidayat, jika memang beliau orangnya, dosen UGM, yang dalam tulisan Mbak disebutkan sebagai legal drafter RUU Keswa ini.

    Skripsi saya berjudul "Pelayanan Psikologi dalam Sistem Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Banda Aceh" berbicara selayang pandang tentang pemahaman dan kinerja antar profesi kesehatan di Puskesmas dalam memandang kinerja psikolog di Aceh, yang notabene bekerja dalam ruang lingkup deteksi orang dengan gangguan mental. Skripsi saya lulus dengan nilai secukupnya karena kemampuan penelitian saya yang terbilang pas- pasan. Namun skripsi saya ini menjadi semangat dan cita- cita saya ke depan, terutama untuk Aceh.

    Perjalanan Saya dalam skripsi ini membawa banyak hal muncul di benak saya. Kondisi Aceh pasca 30 tahun konflik dan bencana besar tsunami serasa menjadi tanggung jawab tersendiri, terutama bagi generasi saya untuk mengambil bagian dalam penyembuhan luka- lukanya. Jika Jakarta berada pada urutan 1 dengan penderita gangguan jiwa kronik, maka Aceh ada pada urutan ke-2. Aceh juga termasuk 10 besar angka gangguan emosional dalam survei Riskesdas.

    Mental Health menjadi 2 potong kata yang akhirnya selalu mencuri perhatian saya. Tulisan- tulisan mbak pada umumnya adalah perhatian yang saya tuju. Saya suka semangat- semangat Mbak bicara soal ini.

    Saya sendiri, belum banyak yang sudah saya lakukan. Saya pernah memaparkan skripsi saya dalam konferensi internasional di Aceh, dan mendapat sambutan baik. Pada suatu forum kepemimpinan skala nasional, project leadership saya adalah mempromosikan kesehatan mental. Saat itu Saya benar- benar kelabakan ketika disuruh mencari akar permasalahan, dan cabang masalah kesehatan mental. Benar- benar banyak. Tapi hal terkecil yang saat itu saya lakukan adalah menyebarkan self-detect mental ilness brosur ke 5 puskesmas di Banda Aceh yang memiliki pelayanan psikologi.

    Apa yang Saya perbuat masih sangat kecil, namun melihat usaha dan kegigihan Mbak dari Senayan sana, membuat saya terpacu untuk juga berjuang dari sini dan melanjutkan harapan itu.  Saya ingin mengatakan bahwa apa yang Mbak lakukan sebagai salah satu atau mungkin satu- satunya anggota DPR RI di sana sangatlah mulia.
    Sistem Kesehatan Jiwa di Indonesia sudah sangat kronis dan harus ditolong. Sistem yang teratur Ini kelak akan banyak menolong orang lain yang bahkan tak tahu sistem itu apa.

    Satu hal yang Saya pahami, bahkan di tingkat global sekalipun, alokasi dana untuk Mental Health masih kecil. Saya pikir, barangkali karena tidak ada orang yang meninggal karena menderita ini, dan itu penyakit yang tidak terlihat. Namun ya tetap saja, penurunan kualitas sumber daya manusia adalah ketertinggalan, dan semua orang berpotensi mengalaminya, dalam level sangat ringan hingga akut.

    Saya tahu di Kanada mereka menggunakan istilah "Mental Challenged" pada ODMK. Entah bagaimana cara menerjemahkan ini dalam bahasa Indonesia, tapi saya rasa penyebutannya jauh lebih manusiawi, karena mereka memiliki tantangan mental, bukan masalah. Psikologis sekali barangkali ya.

    Saya kira pelayanan kesehatan mental masa depan adalah kerjasama dokter jiwa, psikolog, perawat (CMHN atau perawat pada umumnya) dan pekerja sosial. Kondisi lapangan yang saya dapatkan di skripsi masih menunjukkan rendahnya pemahaman bekerja lintas sektoral ini. Tidak mungkin semua profesi kesehatan bekerja sendiri- sendiri. Ini pekerjaan yang terlalu besar.

    Email ini saya kirimkan dari ujung barat Indonesia, untuk memberi banyak dukungan kepada Mbak untuk kegigihannya menempuh jalan panjang isu yang tidak populer ini.
    Saya semakin yakin dengan jalan yang saya pilih dengan melihat Mbak, dan Mbak harus juga yakin, bahwa Mbak dan teman- teman tidak sendirian memperjuangkan ini.

    Cheers dan Fight for MH!

    Fairuz :)

    Leave a comment

    Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.