Pada tahun 2007, saya pribadi pernah melakukan studi kualitatif untuk tesis Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa di FKUI dengan judul "Aspek Biopsikososial dari Tindakan Bunuh Diri pada Dua Orang Pelukis di Yogyakarta".
Namun penelitian ini terbatas pada kalangan seniman lukis. Kemudian saya juga pernah membaca dalam sebuah majalah, bahwa respon pemerintahan Singapura setelah mengetahui adanya peningkatan angka bunuh diri di Singapura, maka mereka melakukan intervensi preventif promotif melalui program konseling di sekolah-sekolah untuk mendeteksi dini potensi penyebab bunuh diri pada remaja.
Berikut jawaban Dirjen BUK (Bina Upaya Kesehatan) Kementerian Kesehatan:
Sehubungan pertanyaan Dr. Nova SpKJ (anggota komisi IX DPR), saat Raker dengan ibu Menkes, bersama ini disampaikan resume sementara, yg sedang dilakukan klarifikasi dg balitbang, mengingat penelitian dilakukan di sana.
Hasil penelitian awal telah dipresentasikan di Direktorat Kesehatan Jiwa pada 13 Januari yang lalu.
Resume:
KEJADIAN BUNUH DIRI DI KOTA KABUPATEN PEKALONGAN DAN KOTA DENPASAR
Tujuan penelitian; Memperoleh angka kematian, karakteristik sosial demografi, gambaran mekanisme bunuh diri serta kelainan perilaku dan kelainan jiwa pada kasus kematian oleh karena bunuh diri.
Metodologi; Mengumpulkan data kejadian bunuh diri dari 3 sumber, Data kematian karena bunuh diri dari kegiatan IMRSSP di dinas kesehatan, pemetaan kasus yang masuk di UGD rumah sakit dan Data bunuh diri baik yang meninggal yang tercatat di kepolisian daerah setempat. Juga dilakukan Kunjungan ke alamat pelaku bunuh diri untuk dilakukan wawancara kepada keluarga.
Hasil dan kesimpulan; pada tahun 2010 dan 2011 ditemukan 67 Kasus bunuh diri, laki-laki lebih 70,1%, tersering pada kelompok umur 45-64 tahun (40%), dan cara yang terbanyak dengan gantung diri (90%). Perilaku pelaku semasa hidup tidak ada yang ekstrovet murni ataupun neurotik murni
Diskusi dan masukan;
- Kesulitan dalam mendapatkan data karena sistim registry yang belum optimal
- Instrumen yang digunakan untuk penelusuran kepribadian pelaku belum valid, perlu menggunaan instrumen lain
- Akan dicari angka prevalensi hingga dapat dibandingkan dengan angka dari Negara lain
Notulensi:
- Dalam penelitian ini, Litbangkes hanya mencari pola kasus bunuh diri.
- Kuisioner yang digunakan tidak valid karena belum teruji dan hanya menggunakan adaptasi dari Aisen.
- Dalam penelitian ini, Litbangkes belum melakukan suicide registry.
- Suicide Registry sudah dilakukan di Pekalongan dan Bali. Hal ini dilakukan jika ada anggota keluarga yang melapor untuk pengurusan uang santunan atau pensiun. Bagi yang meninggal di rumah akan dilakukan verbal autopsy, yaitu dengan menanyakan gejala-gejala klinis.
- Suicide registry merupakan tugas dari Pusat 2, Kementerian Kesehatan. Saat ini gedungnya sedang dalam pembangunan.
- Negara lain sudah memiliki instansi yang mencatat kematian.
- Angka bunuh diri merupakan indikator kesehatan jiwa di suatu negara.
- Penyebab bunuh diri juga dipengaruhi oleh aspek budaya, contohnya Gunung Kidul. Di Gunung Kidul, jika ada cahaya matahari yang masuk ke rumah, maka akan ada yang meninggal, sehingga salah satu anggota keluarga akan mengorbankan dirinya. Kasus bunuh diri di Gunung Kidul paling banyak melalui cara menenggelamkan diri (menyebur ke sumur).
- Dasar bunuh diri tidak ditanyakan dalam penelitian karena alat ukurnya belum tepat.
- Data hasil penelitian ini sudah dapat mewakili penelitian, meskipun validitasnya belum tentu.
- Penelitian ini seharusnya dibandingkan dengan populasi.
- Penelitian di Luar Negeri, bunuh diri dikaitkan dengan gangguan jiwa (90%) → schizophrenia depressan.
- Saat penelitian, perlu dicari informasi tentang hubungan antara kasus bunuh diri dengan tingginya riwayat bunuh diri dalam keluarga.Bunuh diri termasuk dalam multiple cause of death, karena itu dimasukkan dalam form ICD 10.
- Pencatatan bunuh diri di Kota lebih sulit dibandingkan di Kabupaten.